Minggu, 02 Februari 2014

TEKNOLOGI TEPAT GUNA

TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG)



1. LATAR BELAKANG TEKNOLOGI TEPAT GUNA

istilah teknologi tepat guna mulai muncul menyusul krisis minyak 1973 dan pergerakan lingkungan pada dasawarsa 1970-an. Istilah ini biasanya digunakan di dalam dua wilayah: memanfaatkan teknologi paling efektif untuk menjawab kebutuhan daerah pengembangan, dan memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan dan ramah sosial di negara maju.


2. PENGERTIAN TEKNOLOGI TEMPAT GUNA

TTG merupakan alih bahasa secara cukup longgar dari “appropriate technology”, suatu pengertian yang mempunyai makna tertentu, pada dasarnya, dilihat dari aspek teknis. Perujudan TTG banyak ditemukan dalam bentuk teknologi tradisional yang dipraktekkan oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Masyarakat tersebut, kecil sekali peluang memiliki kesempatan memakai teknologi maju dan efisien, yang merupakan pola teknologi dari masyarakat maju/industri. Secara teknis TTG merupakan jembatan antara teknologi tradisional dan teknologi maju. Oleh karena itu aspek-aspek sosio-kultural dan ekonomi juga merupakan dimensi yang harus diperhitungkan dalam mengelola TTG.
Pengenalan teknologi semacam TTG, dihadapkan kepada beragam nama, tergantung pada dimensi yang dicakupnya seperti: teknologi tepat, teknologi pedesaan, teknologi madya (intermediate), teknologi biaya rendah (low cost technology), teknologi padat karya (labour intensive technology) dan lain-lain. Kiranya tidak perlu diperdebatkan tentang pengertian sematik, mengingat selera berbeda-beda. Pengertian yang terkandung dan tersirat pada terminologi berbagai TTG di atas kiranya sudah cukup jelas.

Teknologi adalah pengetahuan yang digunakan untuk membuat barang, menyediakan jasa serta meningkatkan cara dalam menangani sumber daya yang penting dan terbatas. Pengertian lain tentang teknologi adalah upaya manusia untuk membuat kehidupan lebih sejahtera, lebih baik, lebih enak dan lebih mudah. Teknologi dikembangkan untuk membuat hidup lebih baik, efisien dan mudah.
Teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Dari tujuan yang dikehendaki, teknologi tepat guna haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif minimalis dibandingkan dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan.
Istilah ini biasanya diterapkan untuk menjelaskan teknologi sederhana yang dianggap cocok bagi negara-negara berkembang atau kawasan perdesaan yang kurang berkembang di negara-negara industri maju.[1] Bentuk dari "teknologi tepat guna" ini biasanya lebih bercirikan solusi "padat karya" daripada "padat modal". Kendati perangkat hemat pekerja juga digunakan, ia bukan berarti berbiaya tinggi atau mahal ongkos perawatan. Pada pelaksanaannya, teknologi tepat guna seringkali dijelaskan sebagai penggunaan teknologi paling sederhana yang dapat mencapai tujuan yang diinginkan secara efektif di suatu tempat tertentu. Di negara maju, istilah teknologi tepat guna memiliki arti yang berlainan, seringkali merujuk pada teknik atau rekayasa yang berpandangan istimewa terhadap ranting-ranting sosial dan lingkungan.

Teknologi yang dikembangkan dari beragam teknologi satu diantaranya adalahTeknologi Tepat Guna (TTG) yaitu suatu teknologi yang memenuhi, persyaratan: teknis, ekomomi dan sosial budaya.
1.      Teknis, yaitu memperhatikan dan menjaga tata kelestarian lingkungan hidup, penggunaan secara maksimal bahan baku lokal, menjamin mutu (kualitas) dan jumlah (kuantitas) produksi, secara teknis efektif dan efisien, mudah perawatan dan operasi, serta relatif aman dan mudah menyesuaikan terhadap perubahan.
2.      Ekonomis, yaitu efektif menggunakan modal, keuntungan kembali kepada produsen, jenis usaha kooperatif yang mendorong timbul industri lokal.
3.      Sosial budaya, memanfaatkan keterampilan yang sudah ada, menjamin perluasan lapangan kerja, menekan pergeseran tenaga kerja, menghidari konflik sosial budaya dan meningkatkan pendapatan yang merata.


3. Pendidikan Teknologi

Banyak orang beranggapan bahwa teknologi harus bercirikan mesin-mesin industri yang besar, pesawat terbang atau komputer. Padahal pengertian teknologi adalah upaya manusia untuk membuat kehidupan lebih sejahtera, lebih baik, lebih enak dan lebih mudah. Bila seseorang mengupas sabut kelapa dengan gigi dan kemudian berusaha mengupas dengan kapak yang dibuat dari batu, kejadian seperti ini termasuk kedalam teknologi. Ada nilai pengembangan alat di sana.
Oleh karena itu, pendidikan teknologi adalah usaha mengenali keadaan lingkungan dan kemampuan masysrakat dalam mengantisipasi lingkungannya. Setelah mengenal keadaan lingkungan dan kemampuan (masyarakat), pendidikan teknologi harus berusaha dan harus bercirikan mengembangkan kemampuan masyarakat dalam mengantisipasi lingkungan, sehingga hidup masyarakat lebih mudah, lebih enak dan yang terpenting lebih sejahtera. Kalau begitu bila ingin menerapkan TTG harus diikuti dengan pendidikan teknologi, memahami pengertian, kriteria dan persyaratan, ciri-ciri dan ketepatan suatu teknologi.



4. Kriteria Dan Syarat TTG

Menilai ketepat gunaan suatu teknologi, dalam hal ini, yang memberikan makna atau pengertian berhubungan dengan masalah pembangunan pedesaan atau masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut Suwarto Martosudarjo dari LIPI makna/pengertian yang perlu digaris bawahi kriteria ketepat gunaan teknologi itu bahwa: 1) Teknologi itu ekonomis (viable), 2) Teknologi itu dapat dipertanggung jawabkan (technically feasible) dan 3) Teknologi dapat beradaptasi secara mapan kepada lingkungan kultur dan sosial pada sesuatu lokal yang kita perbincangkan (socially acceptable and ecologically sound).
Dalam bentuk pengertian lain TTG adalah hasil dari pendekatan kepada masalah-masalah pembangunan. Menilai TTG adalah dalam pengertian kebutuhan yang nyata dan sumber-sumber yang tersedia, tidak dalam pengertian “maju” yang telah ada. Pendekatan ini menyadari bahwa perbedaan ekonomi, geografis dan kebudayaan memerlukan teknologi yang berbeda dan pembangunan hendaknya menjadi pengabdi kepada manusia dan bukan sebagai tuan atau raja bagi kebutuhan manusia.
Banyak rumusan lain mengenai Teknologi Tepat Guna. Rumusan berikut adalah yang dianut Pusat Teknologi Pembangunan – ITB (PTP – ITB). PTP – ITB mengajukan tiga kriteria/persyaratan yang harus dipenuhi yaitu Teknis, Sosial dan Ekonomik.

Persyaratan Teknis meliputi:
  1. Memperhatikan kelestarian tata lingkungan hidup, menggunakan sebanyak mungkin bahan baku dan sumber energi setempat dan sesedikit mungkin menggunakan bahan baku yang di import.
  2. Jumlah produksi harus cukup dan mutu produksi harus dapat diterima oleh pasaran yang ada, baik dalam maupun luar negeri.
  3. Menjamin agar hasil dapat diangkut ke pasar dengan sarana angkutan yang tersedia dan yang masih dapat dikembangkan, sehingga dapat dihindarkan kerusakan atas mutu hasil (produk) serta menjamin kesinambungan peneyediaan pasokan (suplay) cukup teratur.
  4. Memperhatikan ketertersediaan peralatan, serta operasi dan perawatannya demi kesimanbungan (kontinuitas) persyaratan teknis.

Persyaratan Sosial meliputi:

1.      Memanfaatkan keterampilan yang sudah ada atau kerterempilan yang mudah pemindahannya, serta sejauh mungkin mencegah latihan ulang yang sukar dilakukan, mahal dan memakan waktu
2.      Menjamin timbulnya perluasan lapangan kerja yang dapat terus menerus berkembang.
3.      Menekan serendah mungkin pergeseran tenaga kerja yang mengakibatkan pengangguran ataupun setengah pengangguran.
4.      Membatasi timbulnya ketegangan sosial dan budaya, dengan mengatur agar peningkatan produksi berlangsung dalam batas-batas tertentu,
5.      Menjamin agar peningkatan produksi serasi dengan peningkatan yang merata atas pendapatan

 Persyaratan Ekonomik
1.      Membatasi sesedikit mungkin kebutuhan modal,
2.      Menekan, sehingga minimum kebutuhan akan devisa,
3.      Mengarahkan pemakaian modal, agar sesuai dengan rencana pengembangan lokal, regional dan nasional
4.      Menjamin agar hasil dan keuntungan kembali kepada produsen dan tidak menciptakan terbentuknya mata-rantai baru.
5.      Mengarahkan usaha pada pengelompokan secara koperatif.


5. Kesesuaian (Ketepat Gunaan)

Kapan suatu teknologi itu yang sesuai (tepat guna)? Suatu pertanyaan yang sering diajukan. Berbagai jawaban dikemukakan. Dari beberapa jawaban-jawaban dan bertolak dari kriteria dan syarat TTG yang dikemukakan diatas, dapat diajukan beberapa ketentuan bahwa suatu teknologi dikatakan sesuai (tepat guna):

1.      apabila teknologi itu sebanyak mungkin mempergunakan sumber-sumber yang tersedia banyak di suatu tempat,
2.      apabila teknologi itu sebanyak mungkin mempergunakan sumber-sumber yang terdapat sedikit disuatu tempat,
3.      apabila teknologi itu dapat sesuai dengan keadaan ekonomi dan sosial masyarakat setempat dan
4.      apabila teknologi itu membantu memecahkan persoalan/masalah yang sebenarnya, bukan teknologi yang hanya bersemayam dikepala perencananya.

Suatu yang harus diperhatikan bahwa, masalah-masalah pembangunan boleh jadi memerlukan pemecahan yang unik dan khas, jadi teknologi-teknologi tersebut tidak perlu dipindahkan ke negara-negara atau kedaerah lain dengan masalah serupa. Apa yang sesuai disuatu tempat mungkin saja tidak cocok di lain tempat.
Oleh karena itu tujuan TTG adalah melihat pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah tertentu dan menganjurkan mengapa hal itu “sesuai”.


6. Ciri-ciri TTG

Sebagaimana telah dikemukakan pada kriteria dan syarat dan kesesuaian TTG, dapat dikemukakan ciri-ciri yang cukup menggambarkan TTG (walaupun tidak berarti sebagai batasan) adalah sebagai berikut:

1.      Perbaikan teknologi tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung pertanian, industri, pengubah energi, transprtasi, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan,
2.      Biaya investasi cukup rendah/relatif murah,
3.      Teknis cukup sederhana dan mampu untuk dipelihara dan didukung oleh keterampilan setempat,
4.      Masyarakat mengenal dan mampu mengatasi lingkungannya
5.      Cara pendayagunaan sumber-sumber setempat termasuk sumber alam/energi/bahan secara lebih baik/optimal dan
6.      Alat mandiri masyarakat dan mengurangi ketergantungan kepada “pihak luar” (self-realiance motivated).


7. Penerapan TTG

Penerapan TTG adalah sebuah usaha pembaruan. Meskipun pembaharuan itu tidak mencolok dan masih dalam jangkauan masyarakat, tetapi harus diserasikan dengan keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat serta alam. Kalau tidak, maka usaha pembaharuan itu akan mendapat hambatan yang dapat menggagalkan usaha permbaharuan tersebut.
Usaha pembaharuan itu dirancang sedemikan rupa sehingga seluruh masyarakat merasa bahwa pembaharuan adalah prakarsa mereka sendiri. ABerarti di dalam pembaharuan teknologi itu, terdapat minat dan semangat dalam masyarakat tersebut.
Banyak orang keliru sangaka: kalau orang membawa pompa bambu, biogas, pengering dengan energi radiasi matahari sederhana kedesa, maka orang itu telah menerapkan teknologi tepat guna. Membawa paket-paket teknologi sederhana tersebut kesebuah dasa belum dapat dikatakan sebagai penerapan teknologi tepat guna, bahkan dapat menjerumuskan, apabila tidak disertai pendidikan kepada masyarakat desa tersebut, bagaimana cara membuat dan memperbaiki alat tersebut. Paling ideal penerapan teknologi tepat guna adalah teknologi yang telah ada pada suatu masyarakat dan perbaikan itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat
Penerapan TTG juga harus mempertimbangkan keadaan alam sekitar. Dapat diartikan bahwa dampak lingkungan yang disebabkan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) harus lebih kecil dibandingkan pemakaian teknologi tradisional maupun teknologi maju.

8. Contoh Teknologi Tepat Guna

8.1 Mesin Pengurai dan Pemisah Sabut Kelapa

Merupakan mesin pengolahan untuk menguraikan dan memisahkan sabut kelapa sehingga bisa diolah menjadi produk produk lain seperti bahan fiber, jok mobil, matras, geotextil, serat berkaret, karpet, dll.
Fungsi             : Mengurai sabut kelapa menjadi produk primer ( serat panjang) , bristle ( serat halus dan pendek) , dan debu sabut.

Mesin dioperasikan dengan penggerak Diesel 16 HP dengan kapasitas kerja + / - sebesar 100 kg/ jam. Konstruksi mesin terdiri dari profil besi sebagai rangka dengan pemukul baja. Konstruksi dinding terbuat dari plat besi tebal.


Kegunaan Sabut Kelapa :

1.      Seluruh bagian sabut kelapa dihancurkan untuk media tanam atau pupuk. Karakter produk ini, mampu menyerap air dan pupuk sehingga dapat menambah kesuburan tanah. Cara ini adalah langkah mudah, karena tidak perlu keahlian khusus dan pemikiran panjang untuk pemanfaatannya.
2.      Sabut kelapa dipisahkan antara serat dan serbuknya. Produk ini adalah cocofiber dan cocopeat. Cocofiberadalah bahan dasar untuk kerajinan sabut kelapa, sedangkan cocopeat untuk media tanam dan pupuk. Langkah mudah pemanfaatan produk adalah dengan menjual cocofiber, khusus luar jawa sangat berpotensi besar untuk ekspor sabut kelapa/cocofiber. Hanya perlu dipertimbangkan tentang transportasi, agar harga bisa kompetitif. Khusus yang dekat dengan pelabuhan besar, adalah peluang untk ekspor produk tersebut.
3.      Membuat cocopeat blok untuk keperluan ekspor. Pasar Korea sangat besar untuk produk ini. Namun untk usaha ini, perlu tambahan dana untuk alat press cocopeat.
4.      Cocofiber digunakan sebagai bahan dasar industri tali untuk kerajinan, atau tali kapal dll.
5.      Cocofiber sebagai bahan dasar industri kerajinan rumah tangga. Kesed, matras olahraga, sapu rumah, sikat adalah contoh kecil untuk industri ini.
6.      Cocofiber untuk industri mebelair. Produk turunan ini sangat banyak aplikasi, seperti untuk kasur spring bed, jok mobil, jok pesawat,  untuk matras olahraga, untuk cocopot/pot sabut, untuk bahan dasar pengganti fiber glass, peredam suara dll, aplikasi produk mebelair biasa disebut dengan rubberrized coir/ industri sabut berkaret.
7.      Cocofiber dan cocopeat dapat digunakan untuk aplikasi penghijauan. Produk cocomesh dan cocofiber dapat menghijaukan lahan-lahan kritis, reklamasi pantai dengan mencegah erosi dan abrasi.
8.      Cocofiber juga dapat diaplikasikan untuk sarana penghijauan taman. Unsur serap air pada cocofiber dapat dimanfaatkan untuk membuat garden roof (taman atap bangunan) juga dapat dibuat taman buah-buahan di lahan terbatas.

Dari sekian banyak manfaat dan aplikasinya, kawan-kawan didaerah bisa mengukur kemampuan, sampai sejauh mana dapat dilakukan, apakah hanya pada pemanfaatan raw material/ bahan dasar, ataukah untuk kepentingan produk turunannya.
Pemanfaatan raw material cocofiber khusus untuk ekspor sangat besar, China dan korea adalah penyerap terbesar sampai saat ini, juga untuk pasar eropa. Hanya kembali untuk kawan-kawan di daerah, perlu dipikirkan tentang transportasinya.
Selama ini, jika akan dikembangkan untuk industri turunan sabut kelapa, kendala terbesar di daerah luar jawa adalah SDM pengolahnya. Maka dengan melihat daftar diatas, bisa memperkirakan akan dibawa kemana arah pengembangan sabut kelapa tersebut.
Satu lagi kelebihan sabut kelapa terpecahkan, yaitu sebagai penyaring air. Saya ingat ketika SD diminta untuk membuat aplikasi saringan air, diantaranya memakai pasir, batu kerikil, arang, dan juga sabut kelapa. Air kotor pun berubah jadi jernih, setelah beberapa kali penyaringan. Sebuah kearifan lokal yang perlu kita kembangkan.kelebihan sabut kelapa sebagai penjernih atau penyaring ditunjang dari fungsi sabut kelapa sebagai anti bakteri, yang bersifat asam,


8.2 Mesin Pengupas Kulit Kacang

Deskripsi : Pengupas kulit kacang ini digunakan untuk mengupas kacang tanah yang telah kering. Pengupas kacang dilengkapi dengan blower yang berfungsi untuk memisahkan kulit kacang dengan biji yang telah terkupas 
Fungsi : Digunakan untuk mengupas kacang tanah yang telah kering 
Spesifikasi : Dimensi
Total(cm) : 117 x 117 x 134
Rol pengupas: d = 40cm, p = 60cm
Motor bensin : 5.5 PK
Transmisi : Gearbox, v-belt, pulley
Frame : Besi 






8.3 Mesin Pembuat Kerupuk

Krupuk adalah makanan ringan yang terbuat dari tepung tapioka dicampur dengan tepung pati,  air, garam dan bumbu penyedap secukupnya dengan perbandingan 50 kg tapioka : 20 kg pati : 10 liter. Berhasil atau tidaknya dalam pembuatan krupuk initergantung pada adonan bahan yang digunaan dan keadaan cuaca.
ATW Surakarta merupakan salah satu Perguruan Tinggi Keteknikan di Kabupaten Sukoharjo. Kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh Tim Inventor dari ATW Surakarta untuk membantu memecahkan permasalahan pada pengrajin krupuk adalah dengan merancang bangun mesin pembuat cetakan krupuk dengan sistem screw horisontal dan conveyor. Kelebihan mesin ini dapat menggantikan proses pembuatan cetakan yang selama ini dilakukan secara manual, kapasitas produksi besar, membutuhkan waktu produksi singkat dan tenaga cukup satu orang. Permasalahan pada pengrajin ini mengakibatkan proses produksi krupuk terhambat dan tidak bisa mencapai target. Selama ini adonan krupuk banyak yang terbuang.
KOPINKRA Ngudi Makmur, Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu desa yang berpotensi dan berpeluang besar dalam pembuatan krupuk, mengingat sebagian besar penduduknya bermata pencaharian petani. Sehingga untuk mendapatkan bahan baku krupuk tidak mengalami masalah. Hal ini sangat mendukung sekali usaha pengrajin krupuk tersebut, karena tidak adanya ketergantungan bahan baku.
Kapasitas produksi krupuk yang dimiliki UKM di Mojolaban apabila dilakukan secara manual rata-rata mencapai 70 kg bahan baku yang dapat menghasilkan 5.600 biji krupuk/hari. Apabila mengunakan mesin screw horisontal, kapasitas produksi bisa mencapai 200 kg/jam atau 16 kwintal/hari bahan baku yang dapat menghasilkan 128.000 biji krupuk/hari, sehingga kapasitas produksi dan keuntungan yang diperoleh meningkat.
Dengan penerapan mesin pembuat cetakan krupuk ini dapat meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi bahan baku sehingga keuntungan pengrajin krupuk meningkat.


Industri kecil dan menengah di Kabupaten Sukoharjo antara lain : suttle kock, karak nasi, krupuk, rambak, emping garut, jenang garut, minuman, gamelan,  mebel, jamu, bahan bangunan (batu bata, Paving Block, conblock, batako, roster, genteng). Dari berbagai industri yang ada di wilayah tersebut, industri makanan yang paling dominan, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ;1).bahan baku mudah diperoleh mengingat sebagian besar penduduknya adalah petani, 2).biaya murah, 3).peralatan sederhana, 4).proses produksi sederhana, 5).dapat menghasilkan produk yang banyak diminati masyarakat  kalangan bawah sampai kalangan atas, karena cita rasa yang nikmat, 6).Daerah pemasaran yang luas.
Banyaknya industri kecil yang bergerak di bidang pangan di Sukoharjo, menuntut para pengusaha industri kecil harus mampu bersaing ketat untuk menghasilkan produk yang berkualitas  agar dapat memenangkan pangsa pasar. Permasalahan utama yang dihadapi oleh pengrajin krupuk adalah pada saat proses penekanan adonan dalam mesin cetak masih bersifat tradisional yang mengandalkan tenaga manusia dengan cara pedal pada proses penekanan adonan sehingga adonan banyak yang reject. Hal ini mengakibatkan bahan baku yang dibutuhkan banyak dan jumlah produksinya terbatas,sehingga pengrajin krupuk tidak dapat memenuhi permintaan konsumen secara tepat waktu. Selain itu krupuk yang dihasilkan kualitasnya rendah dari bentuk, ukuran, keretakan yang pada akhirnya daya jual rendah.
Meningkatnya jumlah penduduk dan taraf hidup masyarakat, memerlukan lebih banyak bahan pangan untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Berbagai jenis makanan baik makanan basah maupun makanan kering dalam berbagai bentuk, warna dan cita rasa menjadi kebutuhan manusia.
Permasalahan utama yang dihadapi oleh industri kecil krupuk yang tergabung dalam KOPINKRA Ngudi Makmur adalah pada saat proses pencetakan adonan, masih bersifat manual yang mengandalkan tenaga manusia sehingga antara adonan yang keluar dari arah vertikal dengan proses cetak tidak imbang, banyak bahan adonan yang reject, waktu produksi lama, kapasitas produksi terbatas,  produk kurang higienis, kualitas produk rendah, ketebalan dan ukuran krupuk tidak sama (besar-kecil). Hal ini mengakibatkan proses produksi terhambat, jumlah produksinya terbatas, sehingga tidak dapat memenuhi permintaan konsumen secara tepat waktu.
Mesin krupuk dengan sistem screw horisontal yang digunakan untuk menekan adonan makanan untuk membentuk selendang hingga homogen dan memotong menjadi potongan-potongan sesuai ukuran yang dibutuhkan. Adapun ketebalan produk makanan dapat dilakukan dengan mengatur jarak antar screw horisontal.
Sistem Screw horisontal adalah proses penekanan adonan makanan yang menggunakan ke dalam barrel agar adonan keluar melalui lubang cetakan. Screw ini dibuat dari bahan St 304 Stainless, agar hiegienitas produk makanan terjamin.
Bertitik tolak dari permasalahan di atas, maka Akademi Teknologi Warga Surakarta bekerjasama dengan pihak industri kecil merancang mesin krupuk multifungsi dengan sistem screw horisontal dan conveyor yang diaplikasikan pada diversifikasi pangan dengan pertimbangan yang sesuai dengan kebutuhan industri kecil.

KEUNGGULAN TEKNOLOGI MESIN KRUPUK
  1. Efisiensi tenaga , bahan baku dan waktu
  2. Kapasitas produksi besar (128.000 biji krupuk/hari) sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen seiring dengan meningkatnya keuntungan
3.      Perawatan mudan dan sederhana
4.      Kualitas produk yang dihasilkan lebih baik dengan bentuk dan ukuran sama, minimnya tingkat keretakan.
5.      Pengoperasian mudah
  1. Mesin ini bekerja dengan sistem penggerak motor listrik sehingga tidak tergantung pada kekuatan tenaga manusia.
7.      Bersifat multifungsi, karena dapat digunakan untuk mencetak adonan untuk jenis  produk makanan lain yang sejenis.
8.      Umur teknis lama
  1. Penekanan adonan menggunakan screw posisi horisontal, sehingga proses produksi cepat, tingkat homogenitasnya lebih tinggi dan kualitas produk semakin meningkat.


POTENSI APLIKASI
Mesin pembuat krupuk dengan sistem screw horisontal yang dirancang bangun ini mampu melakukan proses pembuatan model krupuk dan jenis makanan lain yang sejenis yang selama ini dilakukan secara manual. Mesin krupuk ini mempunyai potensi aplikasi yang multifungsi, mengingat disamping untuk membuat berbagai macam bentuk krupuk, mesin ini juga dapat digunakan untuk membuat mie, bihun, rambak asoi, getuk, dengan cara mengganti cetakan saja.
Spesifikasi mesin penggilas dan pemotong ini antara lain : a).Penggerak Motor 1/2 HP, b).Kapasitas 128.000 biji /hari, c).Sistem screw, d).Menggunakan sistem transmisi, daya conveyor 1/2 HP, e).Dimensi 1.375 x 500 x 940, f).Listrik 500 Watt.
Produk yang dihasilkan menggunakan mesin dengan sistem screw horisontal ini mempunyai kualitas yang lebih bagus ditinjau dari bentuk, ukuran, kepadatan bahan, kekenyalan, kadar air dan minimnya tingkat keretakan produk. Mesin ini mampu meningkatkan kapasitas produksi karak mencapai 200 kg /jam. Dengan mesin sistem screw horisontal ini, dapat memberdayakan industri makanan dan meningkatkan harga jual produk sehingga keuntungan meningkat.

Prinsip Kerja mesin krupuk sistem screw horisontal adalah :
  1. Mesin dihidupkan dan dilakukan set up mesin
  2. Adonan makanan dimasukkan dalam hopper (corong masuk).
3.      Dalam pembuatan adonan ini, bahan baku berupa tepung tapioka sebanyak 50 kg dicampur dengan 20 kg tepung pati dan ditambahkan bumbu serata air secukupnya. Apabila menghendaki krupuk yang berwarna, agar kelihatan menarik, maka tambahkan pewarna secukupnya.
4.      Adonan tersebut selanjutnya diaduk di dalam hopper menggunakan pengaduk dari bahan St 304 stainless hingga homogen.
  1. Adonan masuk ke dalam barrel, ditekan oleh screw horisontal
  2. Adonan akan turun melalui lubang-lubang cetakan membentuk krupuk sesuai model yang diinginkan dengan cara mengganti cetakan.
  3. Krupuk yang dihasilkan akan melewati conveyor.
  4. Sisa-sisa adonan yang menempel pada krupuk akan dipotong dengan pisau potong diujung conveyor.
  5. Selanjutnya krupuk yang dihasilkan diproses lebih lanjut yaitu pengukusan, penirisan, penjemuran, sangrai, digoreng, dan dikemas.

DESAIN MESIN KRUPUK
Desain gambar mesin krupuk terdiri dari beberapa komponen utama dan komponen pendukung yaitu :
  1. Reducer
  2. Rangka Utama
  3. Motor Listrik
  4. Penutup Rantai
  5. Rangka Mesin
  6. Hopper
  7. Screw
  8. Pengaduk ganda
  9. Conveyor
  10. Pulley + belt
  11. Pemotong
  12. Bearing
  13. Inverter
Gambar 1. Desain mesin krupuk


Gambar 2. Hasil rancang Bangun Mesin Krupuk dengan Sistem Screw Horisontal dan Conveyor


DAFTAR PUSTAKA

  1. id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_tepat_guna.
  2. http://asephendrianasetiawinata.blogspot.com/2011/04/teknologi-tepat-guna-ttg.html
  3. http://www.galerimesin.com/
  4. pembersih.tigaem.com/keset-a.../53-Mesin-Pengurai-Sabut-Kelapa.html
  5. /jiunkpe/s1/mesn/2004/jiunkpe-ns-s1-2004-24499093-1032-kacang_tanah-chapter2.pdf
  6. /jiunkpe/s1/mesn/2009/jiunkpe-ns-s1-2009-24402092-12540-kelapa-chapter3.pdf


4 komentar:

sisterngesot mengatakan...

selamat malam,
bro bisa beritahu saya skema yang lebih detail mengenai mesin pengurai sabut kelapanya. saya berniat untuk merakitnya sendiri. terimakasih.

Unknown mengatakan...

saya tidak mendalami mengenai mesin pengurai sabut kelapa,itu hanya sebagai contoh saja,,coba kunjungi pembersih.tigaem.com/keset-a.../53-Mesin-Pengurai-Sabut-Kelapa.html

M.Wahyu Pratama mengatakan...

Keren Gan. Terima kasih Infonya Gan :)

Nuririch mengatakan...

Saya mau bertanya mudah-mudahan mendapatkan jawabannya, pertama apakah inventor harus memiliki team seperti(desainer prototipe, pembuat render bendanya), sebaiknya HAki itu dibuat sebelum atau sesudah proses rendering, apakah sebaiknya pula inventor menemui investor atau pabrikan untuk menjual ide langsung dengan royalti atas kekayaan intelektualnya...terimakasih jawabannya saya nantikan sekali

Posting Komentar